Pelesat
Semangat
Engkaulah yang dititipi tubuh dan ruh. Engkaulah yang diberi wewenang
mengoptimalkan fungsinya. Engkau pulalah yang nanti akan dimintai
pertanggungjawaban di hadapan-Nya. Maka, pandai-pandailah memerdekakan dirimu.
Jangan jadikan ia budak nafsu. Jangan jadikan ia abdi kemauan. Jangan jadikan
ia hamba setan. Puasa adalah benteng diri. Perisai yang paling utama. Peredam
nafsu membara. Pengikat setan durjana. Puasa menjadikan manusia merdeka.
Merdeka dari segala cela. Merdeka dari segala nista.
Kemenangan-kemenangan banyak diukir oleh para pelaku shoum.
Kesuksesan-kesuksesan banyak dihasilkan oleh mereka yang berpuasa. Telah
terbukti dalam perang badar, 313 pasukan muslimin menjadikan kocar-kacir 1000
pasukan kafir Qurays. Puasa menjadi penguat mereka. Terik mentari di bulan
Ramadhan menjadikan semangat itu semakin berkobar-kobar dan membara di dalam
dada. Karena hanya ada dua pilihan baginya. Menang dan memperoleh rampasan
perang ataukah syahid dan mendapat surga.
Perang yang sangat menyejarah dan membuka mata dunia. Jika ada
ahli perang yang hadir pada saat itu, mereka tidak akan berani bertaruh.
Pasukan muslim yang lemah dari segi persenjataan akan mampu menghancurkan
kavelari bersenjata lengkap. Mereka akan berkata: apakah mungkin pasukan
sekecil ini mampu mengalahkan rival-nya yang 3 kali lipat jumlahnya? Apakah
pasukan yang perutnya lapar dan stamina berkurang, akan menang melawan
tubuh-tubuh gemuk yang malamnya pesta pora?
Tapi, itulah kenyataan. Kemenangan ada di pihak mereka
yang berpuasa. Kemenangan ada di pihak mereka yang telah berhasil menguasai
nafsunya. Kemenangan ada di pihak mereka yang mampu memerdekaan dirinya.
Menjadi majikan bagi nafsunya dan bukan budaknya.
Demikian pula dengan laki-laki ini. Ia peroleh kekuatan
dengan puasa. Ia telah divonis hukum cambuk oleh Khalifah Al-Makmun. Namun ia
tetap bersikukuh bahwa al-Qur’an bukanlah makhluk. Ketika terlihat ada
kekhawatiran di wajahnya yang mulia, seorang laki-laki yang dikenal sebagai
pencuri mendekat dan menguatkan hatinya. ” Sesungguhnya saya pernah dihukum
cambuk sebanyak 18.000 kali atas kejahatan yang saya lakukan dan saya tenang
saja. Sedangkan anda dicambuk karena kebenaran, seharusnya anda harus lebih
tenang ” Hati laki-laki itupun menjadi tenang. Ketika datang lagi seseorang
yang merasa iba dan membawakan air minum, laki-laki itu berkata, ” aku sedang
berpuasa” Nah!
Laki-Laki itu adalah Imam Ahmad bin Hambal.
Tuesday, October 19, 2010