Ku langkahkan kali menuju sebuah sumur tua yang terletak di
belakang rumah. Aroma pagi yang semerbak membelai hidung menghasilkan reaksi
ilmiah antara jutaan muatan yang terdapat dalam neuron otak dan mengantarkanku menembus ruang dan waktu . Membelai masa
lalu. Menyatukan memory-memory yang tercerai berai. Yang akhirnya menghasilkan
lamunan yang panjang.
Dengan berat ku ayunkan tangan untuk menarik sebuah timba
dari dalam sarangnya untuk mendapat tetesan air suci. Tapi tidak segera
menggunakannya, tubuh ini bersandar pada bibir sumur yang usianya mungkin lebih
tua dari usiaku. Ku tonggakkan kepala, hanya kalimat Subhanallah yang dapat ku ucap Maha Suci Allah atas segala
penciptaannya. Kulihat, langit negeri antah berantah yang bermandikan milyaran
cahaya bintang. Bintang yang terbentuk atas Kuasa-NYA dan bersinar kerena susunan
materi yang sangat panas, menghasilkan gelombang dan menghantarkan cahaya, yang
sebagian telah kita terima untuk dapat melihatnya.
Seberkas cahaya muncul se per-sekian detik dengan gerakan
lurus memanjang. Orang menyebutnya ‘bintang jatuh’. Ia terjadi karena adanya
sebongkah benda langit yang meluncur menghantap bumi, tapi dengan kekuatan
atmosfernya, bumi menang dan membakar benda itu, sehingga menimbulkan berkas
cahaya yang dapat diterima mata kita sebagai objek.
Tak jauh dari sana aku lihat seberkas cahaya berjalan
perlahan. Berbeda dengan berkas cahaya pertama, cahaya ini berjalan begitu
lamban sehingga mata dapat menangkapnya. Ingatanku melayang ke masalalu 20
tahun lalu.
“Ayah
apa itu?, yang berjalan.... seperti bintang, tapi kok jalan?” kata seorang anak
kepada Ayahnya ketika mereka sekeluarga asyik menyaksikan keindahan langit
malam.
“Yang
mana?”. Jawab seorang ayah kepada anak pertamanya yang ia sayanging melebihi
dirinya sendiri.
“Yang
itu ...tu.....!.”
“O....
yang itu. Itu adalah satelit angkasa, satelit itu yang buat manusia...!”.
“O. Namanya Satelit.... ngapa kok manusia membuat satelit Yah? Trus buat apa?
Trus bagaimana ? kok bisa terbang? Hebat ya.... Yah manusia bisa buat seperti
itu”. Tanya seorang anak yang selalu ingin tahu.
“Satelit dibuat untuk membantu
manusia. Misalnya untuk memancarkan signal TV atau signal handphone . Kalau cara buatnya Ayah gak tau, yang buat adalah
orang-orang padai di sana, yang di sebut Insinyur.”jawab seorang Ayah yang
selalu menjawab segala pertanyaan anaknya dengan penuh kesabaran dan
ketelitian.
“lha kok bisa terbang yah? Gak
jatuh gitu?”
“Ya, mereka mendesign satelit
sedemikian rupa, sehingga bisa terbang. Dan dia tidak jatuh kerana diletakkan
jauh dari bumi. Satelit itu sudah melewati gaya grafitasi bumi sehingga tidak
jatuh.”
“Grafitasi apa Yah?”
Senyum Ayah melebar dan menjawab
“Besok kamu juga akan mempelajarinya”.
“Iya, Yah....! besok aq mau jadi
Insinyur lalu membuat Satelit yang bisa ngapa-ngapain....
Bisa buat makanan...., bisa buat
minuman...., bisa nembak musuh...., trus bisa ngelihat kita dari sana....”
Mereka semua tertawa lepas karena
penjelasan dari seorang anak umur 5 tahun itu.
“Ya...! Jadilah apa yang kamu mau
dan kamu suka....! ”
Tak
terasa kini ia telah 20 tahun meninggalkan episode kehidupan itu. Kini ia telah
melakukan Study di University of Amerika dan mengembangkan
teknologi satelit. Dan pagi ini adalah pagi pertama ia tiba di kampung
halamannya untuk menghabiskan libur musim panas.
Lamunanku pecah karena air wudhu yang ku timba
berlarian meninggalkan timbanya. Dengan perlahan ku usap kaki dan tangan.
Dinginnya air menusuk sampai ke tulang meninggalkan bekas.