menu

Sabtu, 30 November 2013

Langit Tua


Ku langkahkan kali menuju sebuah sumur tua yang terletak di belakang rumah. Aroma pagi yang semerbak membelai hidung menghasilkan reaksi ilmiah antara jutaan muatan yang terdapat dalam neuron otak dan mengantarkanku menembus ruang dan waktu . Membelai masa lalu. Menyatukan memory-memory yang tercerai berai. Yang akhirnya menghasilkan lamunan yang panjang.
Dengan berat ku ayunkan tangan untuk menarik sebuah timba dari dalam sarangnya untuk mendapat tetesan air suci. Tapi tidak segera menggunakannya, tubuh ini bersandar pada bibir sumur yang usianya mungkin lebih tua dari usiaku. Ku tonggakkan kepala, hanya kalimat Subhanallah yang dapat ku ucap Maha Suci Allah atas segala penciptaannya. Kulihat, langit negeri antah berantah yang bermandikan milyaran cahaya bintang. Bintang yang terbentuk atas Kuasa-NYA dan bersinar kerena susunan materi yang sangat panas, menghasilkan gelombang dan menghantarkan cahaya, yang sebagian telah kita terima untuk dapat melihatnya.
Seberkas cahaya muncul se per-sekian detik dengan gerakan lurus memanjang. Orang menyebutnya ‘bintang jatuh’. Ia terjadi karena adanya sebongkah benda langit yang meluncur menghantap bumi, tapi dengan kekuatan atmosfernya, bumi menang dan membakar benda itu, sehingga menimbulkan berkas cahaya yang dapat diterima mata kita sebagai objek.
Tak jauh dari sana aku lihat seberkas cahaya berjalan perlahan. Berbeda dengan berkas cahaya pertama, cahaya ini berjalan begitu lamban sehingga mata dapat menangkapnya. Ingatanku melayang ke masalalu 20 tahun lalu.
                “Ayah apa itu?, yang berjalan.... seperti bintang, tapi kok jalan?” kata seorang anak kepada Ayahnya ketika mereka sekeluarga asyik menyaksikan keindahan langit malam.
                “Yang mana?”. Jawab seorang ayah kepada anak pertamanya yang ia sayanging melebihi dirinya sendiri.
                “Yang itu ...tu.....!.”
                “O.... yang itu. Itu adalah satelit angkasa, satelit itu yang buat manusia...!”.
“O. Namanya Satelit.... ngapa kok manusia membuat satelit Yah? Trus buat apa? Trus bagaimana ? kok bisa terbang? Hebat ya.... Yah manusia bisa buat seperti itu”. Tanya seorang anak yang selalu ingin tahu.
“Satelit dibuat untuk membantu manusia. Misalnya untuk memancarkan signal TV atau signal handphone . Kalau cara buatnya Ayah gak tau, yang buat adalah orang-orang padai di sana, yang di sebut Insinyur.”jawab seorang Ayah yang selalu menjawab segala pertanyaan anaknya dengan penuh kesabaran dan ketelitian.
“lha kok bisa terbang yah? Gak jatuh gitu?”
“Ya, mereka mendesign satelit sedemikian rupa, sehingga bisa terbang. Dan dia tidak jatuh kerana diletakkan jauh dari bumi. Satelit itu sudah melewati gaya grafitasi bumi sehingga tidak jatuh.”
“Grafitasi apa Yah?”
Senyum Ayah melebar dan menjawab “Besok kamu juga akan mempelajarinya”.
“Iya, Yah....! besok aq mau jadi Insinyur lalu membuat Satelit yang bisa ngapa-ngapain....
Bisa buat makanan...., bisa buat minuman...., bisa nembak musuh...., trus bisa ngelihat kita dari sana....”
Mereka semua tertawa lepas karena penjelasan dari seorang anak umur 5 tahun itu.
“Ya...! Jadilah apa yang kamu mau dan kamu suka....! ”
                Tak terasa kini ia telah 20 tahun meninggalkan episode kehidupan itu. Kini ia telah melakukan Study  di University of Amerika dan mengembangkan teknologi satelit. Dan pagi ini adalah pagi pertama ia tiba di kampung halamannya untuk menghabiskan libur musim panas.
Lamunanku pecah karena air wudhu yang ku timba berlarian meninggalkan timbanya. Dengan perlahan ku usap kaki dan tangan. Dinginnya air menusuk sampai ke tulang meninggalkan bekas.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolong Berikan komenter tentang artikel atau postingan ini, dan tuiskanlah tulisan untuk membangun dan menumbuhkan motivasi anak bangsa