Kring....Kring....
Terdengar suara dering
handphone Andri, ia hanya menghiraukannya dan meninggalkan suara itu tanpa menggapainya, rasa
lelap dan lelah telah menggerogoti tubuhnya dan tanpa sadar menghiraukan
panggilan itu tanpa melihat siapa yang memanggilnya. Kemudian terdengar suara
ringtone sms favoritnya menggema di ruang kamarnya. Tapi Andri tetap tidak
menggubrisnya karena memang tak terdengar. Jika
ia tidur itulah kebiasaannya, “gak akan dengar
apapun...!”. Pagi
pukul 4 pagi ia terjaga dan mengambil handphone-nya yang menyala karena alarm dan
mematikkannya. Terlihat
ada sebuah icon notifikasi sms dan fb muncul di layar hanphone.nya. Tetapi
blm sempat membuka,
handphonenya mati karena low bat. ia lalu mencharge
di ruang tengah kemudian meninggalkannya dan
mengambil air wudhu dengan menimba di sebuah sumur tua di halaman belakang. Udara dingin menusuk tulang berhembus lembut, ia basuh
tangan dan kakinya.
Setelah selesai menunaikan
kewajibannya kepada Sang Pencipta yang telah memberikan nikmat dan masih
memberikan kesempatan padanya untuk menikmati dan menghabiskan waktu dari
dimensi waktu-NYA dan menempati bumi ini dari dimensi ruang-NYA. Dia gapai handphone dan menghidupkannya. Terlihat
dua icon notifikasi di layar handphone-nya
dan membukanya. Terlebih dahulu dia membuka icon panggilan misscall kemudian dia tau bahwa yang menelponnya adalah sahabatnya
dan terlihat pukul 09.00pm dimana pada jam handphone-nya
menunjukkan pukul 04.30am. Dalam hati ia berkata “Ada apa ya?”. Andripun
menghiraukkannya dan membuka notification
selanjutnya yakni sms dari sang sahabat nan jauh disana. Dalam pesannya dia
hanya melihat emoticon sedih dan
pesan “jika kamu udah buka sms ini tolong buka email dari ku...”. Seketika wajah Andri mengkerut dan bertanya-tanya,
jarang-jarang sahabatnya mengirimkan pesan. Dia ingat ketika mereka dulu sangat
dekat dan sangat sering berkomunikasi tapi sudah beberapa bulan tak ada kabar
dari sahabatnya. Andri hanya bisa menunggu dan menduga bahwa sahabatnya memang
sedang sibuk. Walau rasanya ingin sekali rasanya mengirimkan sebuah pesan yang
hanya untuk menanyakan kabar, tapi ia tak kuasa karena takut mengganggu
aktifitasnya. Setelah beberapa lama akhirnya Andri juga disibukkan dengan
aktifitasnya sendiri. Tapi ada apa gerangan setelah beberapa waktu ia tak
menerima pesan dari sahabatnya tersebut sekarang sahabatnya mengirim pesan dan
dengan nuansa sedih di tambah lagi dengan ada panggilan tak terjawab kemarin
malam.
Setelah membaca pasan tersebut Andri pun segera
menutupnya dan membuka email melalui handset kesayangannya. Setelah membuka email dari sahabatnya kembali dia
menemukan emoticon sedih, ya hanya
itu. Tapi terlihat ada attachment ber-extensi file .doc yang artinya sebuah
file dokumen. Kemudian dia mengklik dan men-download-nya
dengan perasaan penasaran dan hati bertanya-tanya ia menunggu proses downloading selesai. Setelah beberapa detik proses tersebut selesai dan Andripun segera
membukanya. Nama filenya adalah cerita_sahabat.doc. dengan aplikasi quick office dalam handset-nya ia membuka file tersebut.
Diapun memutuskan untuk melangkah
keluar, meletakkan kursi di trotoar jalan dan sambil menikmati suasana pagi dia
membaca tulisan dari sahabatnya itu.
Suasana pagi menjadi sahdu dan ingatannya pun melayang
menembus waktu dengan kecepatan cahaya. Otaknya merespon karena milyaran sel neuron dalam otakknya menerima rangsangan dan menyatukan ingatan
kurang lebih 6 tahun lalu ketika ia masih duduk di kelas 3 SMP.
Ia ingat ketika itu ibunya menangis dalam ranjang kayu di
tengah malam yang sunyi. Ia tau kerena ia bangun dari tidurnya. Kemudian
menghampiri ibunya dengan berkata
“ibuk menangis?”.
“tidak, ibu tidak menangis...”jawab
ibunya sambil menghapus air matanya.
“buk... klu ada masalah certa sama
Andri, jangan dipendam sendiri...”.
“tidak kok kak... kakak tidur
saja...”
“gk andri gk akan tidur sebelum ibu
cerita apa yang terjadi dan mengapa?”
Dengan menahan tangis ibunya pun luluh dan akhirnya
cerita pada sosok anak tertuanya yaitu Andri yang sedaritadi melelehkan air
mata di depannya kerena menunggu ibunya untuk bercerita apa yang sedang terjadi
pada ibundanya tersayang.
Andri pun mendengarkan ceritanya dengan rebahkan
kepalanya di pangkuan ibunya.
Ternyata
kemarin ibunya ingin menelpon ayahnya yang kerja di Jakarta. Waktu ibunya
telpon waktu menunjukkan pukul 04.00am tapi apa yang terjadi? Yang mengangkat
adalah seorang wanita dengan suara yang tidak jelas, kemudian ibunya meyakinkan
dalam handphone-nya benar bahwa yang
dia hubungi adalah kontak suaminya. Ya sudah benar, kemudian ibunya menanyakan
siapa yang mengangkat handphone suaminya
itu? Dengan nada yang aneh wanita itu menjawab tapi belum terdengar suara yang
jelas terdengar suara gemuruh dan telpon itupun mati. Dengan hati cemas dan
penasaran ibu Andri bertanya-tanya siapakah gerangan. Kemudian ia mencoba
menelpon kembali kontak suaminya, tapi hasilnya nihil. Handphone nya tidak aktif. Dengan pikiran positif ibu berusaha
meyakinkan hatinya bahwa itu hanyalah gangguan dari operator atau apalah. Dan
kemudian melanjutkan aktifitas di pagi hari sebagai ibu rumah tangga menyiapkan
segalanya untuk anak-anaknya yang akan berangkat sekolah.
Pagi
pukul 10.00 ibu kembali menelpon ayah danakhirnya di jawab. Dengan rasa takut
ibu menanyakan kenapa tadi pagi yang mengangkat telpon darinya adalah
perempuan? Siapa dan kenapa setelah itu telpon ayah mati?
“kapan
ibu telpon?” dengan nada halus ayah menjawabnya.
“tadi
pagi jam 04.00 ” jawab ibu.
“O. Tadi
pagi handphone ayah memang sedang
mati karena batrenya habis”
“lho lha kenapa kok bisa yang jawab
seorang wanita?”
“ibu salah nomer kalik...”
“gk ibu gak salah ayah... kan ibu
nelpon dari kontak handphone yang biasanya di pakai dan sekarang buktinya
bisa.... yah.... jujur sama ibu”
“jujur kenapa ? ayah benar tidak
menahu.... ibu tenang mungkin ada gangguan di operator”
“Ya sudah kalau gt mungkin memang
ada gangguan...”
“lho kok kalau gt, tho buk..... ayah
harus bagaimana? Maaf buk ayah lagi banyak kerjaan nanti lagi di sambung ....
Assalamu’alaikum”.
“wa’alaikum salam”
Hati ibu merasa tercerai-berai, menduga-duga apa yang
terjadi. Apa mungkin ayah selingkuh atau ayah bermain wanita? Air mata ibupun
meleleh dan semakin menjadi dalam tangisannya.
Mendekap Andri dan
bercerita kembali apa yang tentang perjuanngan ibu selama ini demi ayah dan anak-anak.
“Andri
dari dulu ibu sangat mencintai ayah dan begitu juga ayah, ayah dan ibu menikah
di usia muda. Tapi apa yang terjadi mertua ibu yaitu nenek, dari dulu tidak
suka dengan ibu entah apa alasannya tiap hari hanya cacian yang didapat. Ibu
hanya bisa bersabar karena kita hidup di rumah nenek dan nenek adalah ibu ayah
dan ibu mencintai ayah dan harus berbakti kepada ayah seutuhnya sampai ibu juga
meninggalkan orang tua ibu demi mengapdi kepada ayah. Tapi apa yang ibu dapat?
Hanya cacian dan celaan setiap kali ibu berbakti kepada mertua ibu. Sudah 13
tahun ibu menjalin hubungan dengan ayah dan kalian adalah buah hati kami yang
ibu sayangi. Dan selama itulah ibu bersabar atas perlakuan nenek kepada ibu.
Tapi setelah ibu jauh dari ayah dan ibu tetap berusaha berbakti pada nenek apa
yang ibu dapat? Ayah sudah tidak mencintai ayah. Ayah selingkuh, ibu harus
bagaimana?... ibu ingin mati .... ibu ingin pulang saja. Lebih baik ibu membawa
kalian kembali ke orang tua ibu yang sangat menyayangi kalian dan ibu.” Air
mata ibu mengalir deras tiada terbendung dan menahan tangis kerena takut
adik-adik dan nenek bangun. Andri dan ibunya pun hanya bisa menangis dalam
diam.
Keesokan
harinya di sekolah Andri berusaha menelpon ayah dan bercerita kepada ayah.
“ayah masih sayang sama ibu? Ayah... tolong jaga kami...
tolong jaga ibu... tanpa ayah ibu dan kami tidak akan bisa hidup .... dan
apakah ayah sanggup kami terlantar kerena ke-egoisan dan karena ayah? Walau
Allah menghalalkan seorang suami untuk ber-poligami apakah ayah tega men-duakan
ibu yang sangat mencintai ayah dan selalu menjadi istri dan ibu yang baik bagi
kita semua? Ayah.... Andri tidak akan pernah bertanya apakah yang terjadi pagi
itu dan tidak akan pernah ingin tau atas kejadian itu. Yang Andri inginkan adalah
Ayah bisa membahagiakan ibu dan kami. Tolong ayah ... Andri sangat kagum dengan
ayah dan Andre belajar banyak dengan Ayah jangan biarkan hanya karena ini Andre
dan kami membenci Ayah se-umur hidup.”
Kemudian belum ayahnya membalas perkataan Andri. Andri menutup telponnya.
Di akhir
pekan ayah pulang dan meminta maaf kepada ibu di tengah malam di halaman rumah.
Andre melihatnya tanpa sengaja. Kemudian ayah mengajak ibu ke Jakarta untuk
menemani Ayah bekerja. Andre sangat
bahagian karena hal yang ia takutkan tidak terjadi.
Ya itulah kejadian yang dia ingat.
Kemudian ia berusaha menghubungi sahabatnya dengan kecepatan yang melebihi
kecepatan cahaya menggunakan gelombang transmisi elektronik yang dia sendiri
tidak menau cara kerjanya. Yang pasti dengan proses konversi gelombang yang
sangat rumit.
ceritanya menyentuh.. :)
BalasHapussemoga bisa lebih banyak karya yang dihasilkan..
nikmati setiap karya yang kau buat..
sipp
BalasHapus