menu

Sabtu, 30 November 2013

Cerita Sahabat

Kring....Kring....
Terdengar suara dering handphone Andri, ia hanya menghiraukannya dan meninggalkan suara itu tanpa menggapainya, rasa lelap dan lelah telah menggerogoti tubuhnya dan tanpa sadar menghiraukan panggilan itu tanpa melihat siapa yang memanggilnya. Kemudian terdengar suara ringtone sms favoritnya menggema di ruang kamarnya. Tapi Andri tetap tidak menggubrisnya karena memang tak terdengar. Jika ia tidur itulah kebiasaannya, “gak akan dengar apapun...!”. Pagi pukul 4 pagi ia terjaga dan mengambil handphone-nya yang menyala karena alarm dan mematikkannya. Terlihat ada sebuah icon notifikasi sms dan fb muncul di layar hanphone.nya. Tetapi blm sempat membuka, handphonenya mati karena low bat. ia lalu mencharge di ruang tengah kemudian meninggalkannya dan mengambil air wudhu dengan menimba di sebuah sumur tua di halaman belakang. Udara dingin menusuk tulang berhembus lembut, ia basuh tangan dan kakinya.
Setelah selesai menunaikan kewajibannya kepada Sang Pencipta yang telah memberikan nikmat dan masih memberikan kesempatan padanya untuk menikmati dan menghabiskan waktu dari dimensi waktu-NYA dan menempati bumi ini dari dimensi ruang-NYA. Dia gapai handphone dan menghidupkannya. Terlihat dua icon notifikasi di layar handphone-nya dan membukanya. Terlebih dahulu dia membuka icon panggilan misscall kemudian dia tau bahwa yang menelponnya adalah sahabatnya dan terlihat pukul 09.00pm dimana pada jam handphone-nya menunjukkan pukul 04.30am. Dalam hati ia berkata “Ada apa ya?”. Andripun menghiraukkannya dan membuka notification selanjutnya yakni sms dari sang sahabat nan jauh disana. Dalam pesannya dia hanya melihat emoticon sedih dan pesan “jika kamu udah buka sms ini tolong buka email dari ku...”. Seketika wajah Andri mengkerut dan bertanya-tanya, jarang-jarang sahabatnya mengirimkan pesan. Dia ingat ketika mereka dulu sangat dekat dan sangat sering berkomunikasi tapi sudah beberapa bulan tak ada kabar dari sahabatnya. Andri hanya bisa menunggu dan menduga bahwa sahabatnya memang sedang sibuk. Walau rasanya ingin sekali rasanya mengirimkan sebuah pesan yang hanya untuk menanyakan kabar, tapi ia tak kuasa karena takut mengganggu aktifitasnya. Setelah beberapa lama akhirnya Andri juga disibukkan dengan aktifitasnya sendiri. Tapi ada apa gerangan setelah beberapa waktu ia tak menerima pesan dari sahabatnya tersebut sekarang sahabatnya mengirim pesan dan dengan nuansa sedih di tambah lagi dengan ada panggilan tak terjawab kemarin malam.
Setelah membaca pasan tersebut Andri pun segera menutupnya dan membuka email melalui handset kesayangannya. Setelah membuka email dari sahabatnya kembali dia menemukan emoticon sedih, ya hanya itu. Tapi terlihat ada attachment ber-extensi file .doc yang artinya sebuah file dokumen. Kemudian dia mengklik dan men-download-nya dengan perasaan penasaran dan hati bertanya-tanya ia menunggu proses downloading selesai. Setelah beberapa detik proses tersebut selesai dan Andripun segera membukanya. Nama filenya adalah cerita_sahabat.doc. dengan aplikasi quick office dalam handset-nya ia membuka file tersebut.
Diapun memutuskan untuk melangkah keluar, meletakkan kursi di trotoar jalan dan sambil menikmati suasana pagi dia membaca tulisan dari sahabatnya itu.
Suasana pagi menjadi sahdu dan ingatannya pun melayang menembus waktu dengan kecepatan cahaya. Otaknya merespon karena milyaran sel neuron dalam otakknya menerima rangsangan dan menyatukan ingatan kurang lebih 6 tahun lalu ketika ia masih duduk di kelas 3 SMP.
Ia ingat ketika itu ibunya menangis dalam ranjang kayu di tengah malam yang sunyi. Ia tau kerena ia bangun dari tidurnya. Kemudian menghampiri ibunya dengan berkata
“ibuk menangis?”.
“tidak, ibu tidak menangis...”jawab ibunya sambil menghapus air matanya.
“buk... klu ada masalah certa sama Andri, jangan dipendam sendiri...”.
“tidak kok kak... kakak tidur saja...”
“gk andri gk akan tidur sebelum ibu cerita apa yang terjadi dan mengapa?”
Dengan menahan tangis ibunya pun luluh dan akhirnya cerita pada sosok anak tertuanya yaitu Andri yang sedaritadi melelehkan air mata di depannya kerena menunggu ibunya untuk bercerita apa yang sedang terjadi pada ibundanya tersayang.
Andri pun mendengarkan ceritanya dengan rebahkan kepalanya di pangkuan ibunya.
            Ternyata kemarin ibunya ingin menelpon ayahnya yang kerja di Jakarta. Waktu ibunya telpon waktu menunjukkan pukul 04.00am tapi apa yang terjadi? Yang mengangkat adalah seorang wanita dengan suara yang tidak jelas, kemudian ibunya meyakinkan dalam handphone-nya benar bahwa yang dia hubungi adalah kontak suaminya. Ya sudah benar, kemudian ibunya menanyakan siapa yang mengangkat handphone suaminya itu? Dengan nada yang aneh wanita itu menjawab tapi belum terdengar suara yang jelas terdengar suara gemuruh dan telpon itupun mati. Dengan hati cemas dan penasaran ibu Andri bertanya-tanya siapakah gerangan. Kemudian ia mencoba menelpon kembali kontak suaminya, tapi hasilnya nihil. Handphone nya tidak aktif. Dengan pikiran positif ibu berusaha meyakinkan hatinya bahwa itu hanyalah gangguan dari operator atau apalah. Dan kemudian melanjutkan aktifitas di pagi hari sebagai ibu rumah tangga menyiapkan segalanya untuk anak-anaknya yang akan berangkat sekolah.
            Pagi pukul 10.00 ibu kembali menelpon ayah danakhirnya di jawab. Dengan rasa takut ibu menanyakan kenapa tadi pagi yang mengangkat telpon darinya adalah perempuan? Siapa dan kenapa setelah itu telpon ayah mati?
            “kapan ibu telpon?” dengan nada halus ayah menjawabnya.
            “tadi pagi jam 04.00 ” jawab ibu.
            “O. Tadi pagi handphone ayah memang sedang mati karena batrenya habis”
“lho lha kenapa kok bisa yang jawab seorang wanita?”
“ibu salah nomer kalik...”
“gk ibu gak salah ayah... kan ibu nelpon dari kontak handphone  yang biasanya di pakai dan sekarang buktinya bisa.... yah.... jujur sama ibu”
“jujur kenapa ? ayah benar tidak menahu.... ibu tenang mungkin ada gangguan di operator”
“Ya sudah kalau gt mungkin memang ada gangguan...”
“lho kok kalau gt, tho buk..... ayah harus bagaimana? Maaf buk ayah lagi banyak kerjaan nanti lagi di sambung .... Assalamu’alaikum”.
“wa’alaikum salam”
Hati ibu merasa tercerai-berai, menduga-duga apa yang terjadi. Apa mungkin ayah selingkuh atau ayah bermain wanita? Air mata ibupun meleleh dan semakin menjadi dalam tangisannya.
Mendekap  Andri dan bercerita kembali apa yang tentang perjuanngan ibu selama ini demi ayah dan anak-anak.
            “Andri dari dulu ibu sangat mencintai ayah dan begitu juga ayah, ayah dan ibu menikah di usia muda. Tapi apa yang terjadi mertua ibu yaitu nenek, dari dulu tidak suka dengan ibu entah apa alasannya tiap hari hanya cacian yang didapat. Ibu hanya bisa bersabar karena kita hidup di rumah nenek dan nenek adalah ibu ayah dan ibu mencintai ayah dan harus berbakti kepada ayah seutuhnya sampai ibu juga meninggalkan orang tua ibu demi mengapdi kepada ayah. Tapi apa yang ibu dapat? Hanya cacian dan celaan setiap kali ibu berbakti kepada mertua ibu. Sudah 13 tahun ibu menjalin hubungan dengan ayah dan kalian adalah buah hati kami yang ibu sayangi. Dan selama itulah ibu bersabar atas perlakuan nenek kepada ibu. Tapi setelah ibu jauh dari ayah dan ibu tetap berusaha berbakti pada nenek apa yang ibu dapat? Ayah sudah tidak mencintai ayah. Ayah selingkuh, ibu harus bagaimana?... ibu ingin mati .... ibu ingin pulang saja. Lebih baik ibu membawa kalian kembali ke orang tua ibu yang sangat menyayangi kalian dan ibu.” Air mata ibu mengalir deras tiada terbendung dan menahan tangis kerena takut adik-adik dan nenek bangun. Andri dan ibunya pun hanya bisa menangis dalam diam.
            Keesokan harinya di sekolah Andri berusaha menelpon ayah dan bercerita kepada ayah.
“ayah masih sayang sama ibu? Ayah... tolong jaga kami... tolong jaga ibu... tanpa ayah ibu dan kami tidak akan bisa hidup .... dan apakah ayah sanggup kami terlantar kerena ke-egoisan dan karena ayah? Walau Allah menghalalkan seorang suami untuk ber-poligami apakah ayah tega men-duakan ibu yang sangat mencintai ayah dan selalu menjadi istri dan ibu yang baik bagi kita semua? Ayah.... Andri tidak akan pernah bertanya apakah yang terjadi pagi itu dan tidak akan pernah ingin tau atas kejadian itu. Yang Andri inginkan adalah Ayah bisa membahagiakan ibu dan kami. Tolong ayah ... Andri sangat kagum dengan ayah dan Andre belajar banyak dengan Ayah jangan biarkan hanya karena ini Andre dan kami membenci  Ayah se-umur hidup.”
Kemudian belum ayahnya membalas perkataan  Andri. Andri menutup telponnya.
            Di akhir pekan ayah pulang dan meminta maaf kepada ibu di tengah malam di halaman rumah. Andre melihatnya tanpa sengaja. Kemudian ayah mengajak ibu ke Jakarta untuk menemani  Ayah bekerja. Andre sangat bahagian karena hal yang ia takutkan tidak terjadi.
Ya itulah kejadian yang dia ingat. Kemudian ia berusaha menghubungi sahabatnya dengan kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya menggunakan gelombang transmisi elektronik yang dia sendiri tidak menau cara kerjanya. Yang pasti dengan proses konversi gelombang yang sangat rumit.



2 komentar:

  1. ceritanya menyentuh.. :)
    semoga bisa lebih banyak karya yang dihasilkan..

    nikmati setiap karya yang kau buat..

    BalasHapus

Tolong Berikan komenter tentang artikel atau postingan ini, dan tuiskanlah tulisan untuk membangun dan menumbuhkan motivasi anak bangsa